Utang Israel Meningkat Rp121 Triliun Selama Konflik Israel-Palestina

Ekonomi Israel sedang dihadapkan pada tantangan berat setelah terlibat dalam pertempuran dengan Hamas di Jalur Gaza pada Oktober 2023. Kementerian Keuangan Israel mengumumkan bahwa utang Israel mencapai 30 miliar shekel, setara dengan US$ 7,8 miliar atau Rp 121,56 triliun (kurs Rp 15.585). Lebih dari setengahnya, yaitu 16 miliar shekel, merupakan utang Israel dalam mata uang dolar AS melalui penerbitan di pasar internasional.

Meskipun demikian, Kementerian Keuangan menegaskan bahwa kemampuan pendanaan negara masih memungkinkan pemerintah untuk membiayai seluruh kebutuhannya secara penuh dan optimal.

Konflik dengan Hamas telah menyebabkan pengeluaran Israel meningkat drastis untuk kebutuhan militer, kompensasi kepada keluarga korban, dan pemulihan bisnis di dekat perbatasan. Sementara itu, penerimaan pajak melambat, sehingga pada Oktober 2023, Israel mengalami defisit anggaran sebesar 22,9 miliar shekel. Meningkat dari bulan sebelumnya yang mencapai 4,6 miliar shekel. Defisit tersebut juga meningkatkan defisit pada tahun sebelumnya menjadi 2,6%. Meski menghadapi tekanan ekonomi, Kementerian Keuangan Israel menyatakan komitmen untuk mendanai operasional pemerintah. Mereka akan terus bergerilya dalam semua lini untuk mendukung dan membiayai program pemerintah yang telah berjalan. Dalam hal ini juga termasuk kebutuhan akibat perang dan bantuan ekonomi kepada warga lokal.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, berjanji akan memberikan kebijakan untuk membantu mereka yang terkena dampak perang. Namun, para ekonom memperkirakan kebijakan tersebut akan meningkatkan defisit dan rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Israel secara signifikan hingga tahun 2024. Gubernur Bank of Israel, Amir Yaron, menekankan perlunya keseimbangan antara mendukung perekonomian dan mempertahankan posisi fiskal yang sehat. Lembaga pemeringkat kredit telah memberi peringatan bahwa mereka dapat menurunkan peringkat jika kondisi utang Israel semakin memburuk.

Sejak perang tercetus pada 7 Oktober 2023, banyak korban yang telah berjatuhan dari pihak Palestina, baik itu orang dewasa, anak-anak, hingga bayi yang baru lahir. Diperhitungkan, perang Israel-Palestina telah menelan korban lebih dari 11 ribu orang, termasuk diantaranya 4.650 anak-anak dan 3.145 perempuan.