7 Negara Dengan Matahari Buatan: Dari China Sampai India

Negara-negara dengan teknologi canggih saat ini sedang berlomba-lomba untuk menciptakan fusi nuklir sebagai sumber energi bersih yang potensial. Salah satu pendekatan yang dikembangkan untuk mencapai fusi nuklir adalah penggunaan tokamak, sebuah struktur berbentuk donat dengan cincin magnet raksasa yang bertujuan menahan plasma super panas.

Beberapa negara terkemuka dalam pengembangan teknologi matahari buatan, antara lain China, Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, Prancis, Inggris, dan India. China telah mencatatkan prestasi gemilang dengan Experimental Advance Superconducting Tokamak (EAST) yang berhasil memecahkan rekor suhu plasma. Jepang juga meresmikan Tokamak JT-60SA, reaktor fusi nuklir eksperimental terbesar yang beroperasi di dunia, yang merupakan hasil kerjasama antara Uni Eropa dan Jepang.

Korea Selatan juga mencatatkan rekor dengan Matahari buatan buatannya yang mampu menyala selama 20 detik dengan suhu mencapai 100 juta derajat Celsius. Amerika Serikat juga aktif dalam penelitian ini, dengan peneliti dari Institut Teknologi Massachusetts dan perusahaan swasta yang berhasil mengembangkan magnet superkonduktor bersuhu tinggi. Prancis, melalui proyek Iter yang mereka kerjakan, menelan anggaran mencapai Rp342 triliun dengan tujuan mereplikasi reaksi Matahari untuk menunjukkan daya fusi yang dapat dihasilkan pada skala komersial.

Inggris juga mencapai pencapaian dengan Mega Amp Spherical Tokamak (MAST)-Upgrade yang berhasil mencapai plasma pertama setelah tujuh tahun pembangunan. Sementara India juga menjadi kuda hitam dalam pengembangan teknologi fusi nuklir, dengan peran utama di ITER dan kontribusinya dalam memproduksi komponen penting proyek tersebut serta mengoperasikan Steady State Superconducting Tokamak (SST).