Red Bull Racing resmi memasuki era baru. Setelah dua dekade menjadi wajah utama tim, Christian Horner akhirnya digantikan Laurent Mekies dalam struktur manajemen Red Bull, sebuah keputusan yang menegaskan bahwa masa kejayaan tak lagi cukup untuk menahan tekanan dari hasil yang terus merosot.
Penurunan performa jadi sinyal perubahan
Dalam 18 bulan terakhir, Red Bull tidak lagi tampil sedominannya seperti sebelumnya. Pada pertengahan musim 2025, tim itu bahkan tercecer di posisi keempat klasemen konstruktor. Meski Max Verstappen masih sempat mencatat dua kemenangan musim ini, gambaran besar menunjukkan penurunan performa yang cukup jelas, terlebih sejak persaingan dengan McLaren menguat pada tahun sebelumnya.
Kondisi tersebut diperparah oleh keluarnya sejumlah sosok penting dari struktur tim. Kepergian Adrian Newey, Rob Marshall, dan Jonathan Wheatley disebut ikut memengaruhi stabilitas dan daya saing Red Bull di lintasan. Dalam olahraga seketat Formula 1, hilangnya figur-figur kunci seperti itu kerap berdampak lebih besar daripada yang terlihat di permukaan.
Horner tetap dikenang, tapi bab baru sudah dimulai
Meski tak lagi memegang kendali operasional, Horner tetap dihormati atas kontribusinya selama 20 tahun memimpin Red Bull. Di bawah arahannya, tim ini mengoleksi delapan gelar juara dunia pembalap dan enam gelar konstruktor, pencapaian yang menempatkan Red Bull sebagai salah satu kekuatan terbesar dalam sejarah F1 modern.
Namun, perjalanan Horner tak lepas dari kontroversi yang mencuat tahun lalu. Situasi itu ikut memengaruhi hubungan internal tim, termasuk dengan Verstappen, yang selama ini menjadi pilar utama Red Bull di lintasan.
Mekies ambil alih, masa depan Verstappen ikut jadi sorotan
Dengan masuknya Laurent Mekies, Red Bull berharap ada energi baru untuk menata ulang tim. Di saat yang sama, Alan Permane juga mengambil alih posisi prinsipal di Racing Bulls, menandai pergeseran besar dalam struktur kepemimpinan di lingkungan Red Bull.
Di luar pergantian manajemen, perhatian juga tertuju pada masa depan Verstappen. Meski masih terikat kontrak hingga 2028, spekulasi tetap mengemuka di tengah menurunnya daya saing tim. Tekanan itu semakin besar karena Red Bull tengah menyiapkan program mesin ambisius melalui Red Bull Powertrains dengan dukungan Ford, sebuah proyek yang justru menambah tanda tanya soal kemampuan mereka menjaga kompetitivitas dalam jangka panjang.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.












