Berita  

Dampak Perang Rudal dan Dagang: Analisa Sri Mulyani

Ketidakpastian global kembali menjadi sorotan utama bagi pemerintah Indonesia. Menteri Keuangan Sri Mulyani menilai situasi dunia saat ini bukan sekadar soal perlambatan ekonomi, tetapi juga cerminan meningkatnya ketegangan politik, dagang, dan keamanan yang ikut menekan banyak negara, termasuk Indonesia.

Tekanan dari Negara-Negara Besar

Dalam rapat kerja Komite IV DPD RI, Sri Mulyani menyoroti bagaimana kebijakan negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Eropa, Jepang, RRT, Rusia, hingga kelompok BRICS turut membentuk arah ketidakpastian global. Perbedaan kepentingan antarnegara, menurutnya, semakin sulit dikelola karena mekanisme penyelesaiannya tidak lagi berjalan sekuat dulu.

Ia menggambarkan kondisi dunia saat ini seperti kembali mendekati pola sebelum Perang Dunia II, ketika negara-negara cenderung memaksakan kehendak masing-masing. Situasi itu memunculkan tekanan ganda: ancaman militer di satu sisi dan gejolak ekonomi di sisi lain.

Lembaga Global Dinilai Melemah

Setelah Perang Dunia II, dunia membangun tatanan baru melalui lembaga multilateral seperti IMF, Bank Dunia, WHO, dan World Trade Organization. Lembaga-lembaga itu dibentuk untuk mencegah terulangnya konflik besar dan menjaga stabilitas internasional. Namun kini, Sri Mulyani menilai peran lembaga tersebut kian melemah dan tak lagi sepenuhnya dihormati oleh negara-negara anggota.

Menurut dia, melemahnya wibawa lembaga global membuat penyelesaian konflik dan perbedaan kepentingan menjadi lebih rumit. Akibatnya, ketegangan antarnegara mudah merembet ke sektor perdagangan, keuangan, dan investasi.

Perang Dagang dan Proyeksi Ekonomi Global

Perang dagang, terutama yang melibatkan Amerika Serikat dan China, disebut turut memperburuk ketidakpastian. Kebijakan tarif impor yang diterapkan dalam beberapa tahun terakhir menciptakan efek berantai bagi perekonomian dunia. Di saat yang sama, berbagai lembaga internasional seperti IMF, World Bank, dan OECD memperkirakan ketidakpastian ini akan menahan laju pertumbuhan ekonomi pada tahun ini maupun tahun depan.

IMF bahkan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global hanya 2,8 persen pada tahun ini, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya. Tren perlambatan juga terlihat di banyak negara anggota G7 dan G20, menandakan bahwa tekanan ekonomi tidak hanya dirasakan oleh negara berkembang, tetapi juga oleh kekuatan ekonomi utama dunia.

Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.