5 Cara Mendorong Aktifitas Fisik Anak dan Hindari Kecanduan Gim

5 Cara Mendorong Aktifitas Fisik Anak dan Hindari Kecanduan Gim

Di tengah makin dekatnya anak dengan gim dan gawai, Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, mengingatkan orang tua agar tidak hanya membatasi layar, tetapi juga aktif menawarkan alternatif yang lebih sehat. Menurut dia, kunci utamanya ada pada kemampuan orang tua membaca minat anak dan mengarahkan energi mereka ke aktivitas fisik, terutama olahraga dan kegiatan luar ruang.

Orang Tua Diminta Tidak Tertinggal dari Anak

Pesan itu disampaikan Isyana dalam diskusi bertajuk Peran Pembangunan Keluarga dalam Menyongsong Indonesia Emas 2045 yang digelar Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) bersama Gempita. Ia menilai, tantangan pengasuhan saat ini bukan sekadar soal mengawasi, melainkan juga soal kesiapan orang tua untuk terus belajar dan memahami teknologi yang berkembang sangat cepat.

Isyana menegaskan, anak-anak kerap lebih dulu akrab dengan dunia digital dan bisa mencari kepuasan instan lewat media sosial maupun gim. Pola seperti ini, jika dibiarkan, bisa membuat mereka semakin sulit lepas dari layar. Karena itu, orang tua perlu hadir dengan cara yang relevan, bukan hanya memberi larangan.

Olahraga Jadi Jalan untuk Kepuasan yang Lebih Sehat

Dalam pandangan Isyana, aktivitas fisik bisa menjadi jalan untuk memenuhi kebutuhan anak akan kesenangan dan tantangan secara lebih alami. Olahraga, bermain di luar rumah, hingga kegiatan yang melibatkan gerak tubuh disebut dapat membantu anak memperoleh dopamin secara sehat, tanpa bergantung pada gim atau media sosial.

Ia juga menyoroti pentingnya menciptakan ruang yang membuat anak nyaman bergerak dan bereksplorasi. Dengan begitu, anak tidak hanya sibuk dengan layar, tetapi juga punya kesempatan untuk terlibat dalam permainan tradisional, aktivitas kreatif, dan olahraga yang membangun kebiasaan baik sejak dini.

Ruang Aman untuk Anak dan Keluarga

Isyana turut merujuk pada program Ruang Bersama Indonesia (RBI) yang diperkenalkan Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Veronica Tan. Program ini dirancang sebagai ruang aman dan inklusif bagi perempuan, anak-anak, serta masyarakat sekitar agar bisa berkembang bersama dalam aktivitas positif.

Dengan pendekatan seperti itu, anak diharapkan tidak lagi menjadikan gawai sebagai pusat hiburan utama. Sebaliknya, mereka didorong untuk menemukan kesenangan dari interaksi langsung, permainan yang melatih fisik, dan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang secara lebih seimbang.

Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.