Makam pendiri McLaren, Bruce McLaren, bersama dengan istrinya Patricia dan kedua orang tuanya, Ruth dan Les, di Pemakaman Waikumete, Auckland, menjadi korban aksi vandalisme yang tak diharapkan. Nisan mereka disemproti cat emas dan mobil-mobilan ditempelkan di atasnya, meninggalkan sejumlah kerusakan yang membuat banyak orang terkejut. Pihak yayasan dengan penuh kecemasan menginformasikan kepada para pengikut mereka mengenai insiden tersebut dan mengungkapkan ketidakmengertian atas tindakan yang merusak itu. Beruntungnya, organisasi sukarela The Grave Guardians telah menawarkan bantuan dalam merestorasi nisan tersebut dan mendapat apresiasi yang tinggi dari pihak yang terkena dampak. Sementara itu, polisi Selandia Baru tengah menyelidiki kasus vandalisme tersebut sejak tanggal 5 November, dan mereka meminta bantuan informasi dari masyarakat. Meskipun kamera keamanan terpasang di lokasi, luasnya area pemakaman membuat identifikasi pelaku vandalisme menjadi sulit.
Kejadian tersebut terjadi beberapa hari sebelum balapan Grand Prix Brasil di Interlagos, dengan pembalap McLaren, Lando Norris dan Oscar Piastri, tengah bertarung sengit untuk merebut gelar juara dunia. Momentum kemarahan menjelang akhir pekan balapan menciptakan ketegangan bagi tim McLaren Racing, yang baru saja meraih gelar konstruktor di Grand Prix Singapura 2025. CEO McLaren Racing, Zak Brown, merasa bersyukur atas kesuksesan yang diraih oleh tim dan mengakui pentingnya dukungan dari para penggemar dan mitra mereka. Keberhasilan yang telah diraih sejak awal era pepaya McLaren pada 2018 hingga saat ini merupakan bukti dari semangat tim yang kuat dan persatuan yang solid. Desas-desus pencapaian, pole positions, kemenangan, podium, dan gelar konstruktor yang mereka persembahkan menjadi suatu prestasi yang membanggakan bagi seluruh tim. Semangat untuk terus melanjutkan prestasi demi kemenangan yang lebih besar tentunya masih membara dalam hati setiap anggota tim.












