Berita  

Ramalan Ekonomi RI 2026 dari Pengusaha Hotel, Mal, dan Tekstil

Tahun 2026 diperkirakan akan menjadi tahun yang penuh dengan tantangan bagi dunia usaha. Meskipun kondisi ekonomi membaik sedikit dari tahun sebelumnya, namun pelaku usaha masih dihadapkan pada beberapa masalah seperti daya beli yang rendah, ketidakpastian kebijakan, dan risiko pelemahan kinerja setelah kuartal pertama. Asosiasi pengusaha lintas sektor, mulai dari perhotelan, ritel, hingga industri hulu, menggarisbawahi pentingnya momen awal tahun ini untuk menjaga kinerja sepanjang tahun 2026.

Menurut Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Maulana Yusran, outlook industri hotel pada 2026 masih belum sepenuhnya menggembirakan. Kekhawatiran utama muncul dari rencana kebijakan efisiensi anggaran pemerintah dan pemotongan transfer dana dari pusat ke daerah. PHRI mendesak percepatan belanja pemerintah di awal tahun depan untuk menopang aktivitas hotel dan restoran.

Dari sektor ritel, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, memperkirakan tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan akan meningkat sekitar 10% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, ia juga mengingatkan adanya risiko perlambatan di pertengahan tahun.

Sementara itu, kondisi ekonomi 2026 dijelaskan oleh Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Anggawira, cenderung membaik tipis. Pertumbuhan ekonomi diprediksi berkisar antara 5,3-5,4% dengan inflasi yang tetap terkendali. Namun, daya beli kelas menengah masih rentan dan konsumsi diperkirakan tumbuh moderat.

Dari sektor industri hulu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI), Farhan Aqil, menyoroti persaingan dengan produk impor yang memberikan tekanan pada industri tekstil. Proyeksi dari berbagai asosiasi pengusaha menunjukkan bahwa tahun 2026 memiliki potensi pemulihan, meskipun tetap dihadapkan pada berbagai tantangan seperti daya beli yang masih rendah, permintaan yang kurang, dan ketidakpastian kebijakan fiskal dan perdagangan sebagai hambatan utama.

Source link