Berita  

7 Alasan UMKM di Indonesia Tetap Kuat Meski Krisis

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia dengan kontribusi lebih dari 60% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Data dari BPS menunjukkan bahwa ada sebanyak 65,5 juta unit usaha UMKM di Indonesia. Berbagai krisis telah melanda Indonesia, mulai dari krisis finansial Asia pada 1998 hingga krisis global pada 2008, namun UMKM tetap mampu bertahan dan bahkan menjadi tulang punggung kebangkitan ekonomi Indonesia.

Menurut Prasasti Center for Policy Studies, UMKM, terutama usaha mikro dan kecil, memiliki ciri khas yang membuatnya tahan banting dalam menghadapi krisis. UMKM di Indonesia tampak mampu bertahan tidak hanya pada krisis masa lalu, tetapi juga ketika menghadapi Pandemi Covid-19. Meskipun Pandemi Covid-19 membatasi aktivitas publik, UMKM mampu tumbuh tipis dan menyesuaikan bisnis dengan adopsi digitalisasi untuk berjualan secara online.

Data dari BPS menunjukkan pertumbuhan UMKM yang meningkat dari tahun ke tahun, menunjukkan potensi besar segmen usaha ini untuk terus berkembang. Meskipun individu dari UMK cenderung rentan dan mengalami kebangkrutan, munculnya UMKM baru menggantikan yang tumbang, sehingga secara agregat UMKM tetap stabil. Dengan kondisi ekonomi global yang tidak pasti dan ketidakpastian geopolitik, UMKM di Indonesia tetap optimis untuk tetap berkembang, terlihat dari indeks bisnis UMKM yang masih dalam fase ekspansi pada Kuartal III-2025.

Salah satu indikator pertumbuhan UMKM adalah dari porsi kredit perbankan, di mana bank seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) memiliki fokus yang kuat pada segmen UMKM. Hingga akhir tahun 2025, total kredit UMKM yang disalurkan oleh BRI mencapai Rp1.521,49 triliun, menunjukkan komitmen perbankan dalam mendukung pertumbuhan UMKM di Indonesia. Dengan sejarah keberhasilan UMKM dalam bertahan dari berbagai krisis sebelumnya, peluang masih terbuka lebar bagi pertumbuhan UMKM di masa depan.

Source link