Berita  

Investasi RI Disalip Malaysia-Vietnam: Ekonom Senior Mengungkap Sebabnya

Eksklusif: Industri dan Investasi RI Terbelakang dari Tetangga

Jakarta, CNBC Indonesia – Sektor industri seharusnya menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi Indonesia guna menghindari pertumbuhan stagnan di level 5%. Untuk itu, kebijakan untuk mendukung kinerja ekspor diperlukan.

Ekonom senior INDEF Didik J. Rachbini menyayangkan industri yang seharusnya menjadi lokomotif justru tumbuh rendah sehingga tidak bisa diharapkan ekonomi tumbuh tinggi.

Masalah Daya Saing dan Institusi

Didik menegaskan masalah struktural ini adalah masalah daya saing dan masalah institusi dari ekonomi nasional. Dari pandangan Didik, sampai sekarang investasi asing enggan masuk ke Indonesia.

Salah satu penyebab masalah struktural yang disoroti Didik adalah masalah institusi yang lemah, dikritik sendiri oleh Presiden Prabowo, terutama terhadap birokrasi yang menghambat banyak pelaku usaha.

Satgas Deregulasi untuk Reformasi Birokrasi

Menurutnya, regulasi yang ruwet dinilai justru membuka celah praktik tidak sehat dalam birokrasi. Tak heran, Presiden berencana membentuk satuan tugas (satgas) khusus deregulasi untuk memangkas aturan dan perizinan yang dinilai menghambat investasi serta kegiatan usaha di Indonesia.

Indonesia berhasil melakukannya pada tahun 1980-an dan awal 1990-an yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi 7%. Dan semua negara maju melakukannya, seperti Korea Selatan pada era industrialisasi, Singapura di bawah Lee Kuan Yeuw, dan Cina pada era Deng Xiao Ping.

Visi dan Orientasi Ekonomi Indonesia

Didik melihat ada masalah yang lebih luas dalam hal visi, mind set, dan orientasi ekonomi Indonesia yang mundur ke belakang. Menurutnya, visi dan orientasi ekonomi Indonesia pada tahun 1980-an berorientasi ke luar (outward looking), tetapi sekarang menjadi lebih sosialis dengan peran negara yang semakin besar, dengan orientasi ke dalam (inward looking).

Perubahan ini menyebabkan sektor luar negeri Industri akan bergerak lamban dan bertumbuh rendah maksimal hanya tumbuh moderat seperti terlihat sekarang. Investasi asing lemah dan bahkan hanya menerima investasi yang tidak berkualitas, seperti restoran, jasa konsultasi, kegiatan ekonomi ekstraktif, dan sejenisnya.

Didik mengatakan investasi tidak berkualitas tersebut nilai tambahnya rendah, tidak menciptakan transfer teknologi, kualitas pekerjaan rendah, dan mempunyai dampak lingkungan yang berat. Dimensi dari struktur ekonomi Indonesia lemah seperti ini menyebabkan nilai tukar juga rapuh, rentan terhadap pelarian modal.

Source link