Red Bull Menghadapi Tantangan dengan Wind Tunnel Tua
Perjalanan yang Menantang di Musim 2026
Musim 2026 dimulai dengan tantangan bagi tim yang dipimpin oleh Laurent Mekies. Meskipun unit daya baru Red Bull terbukti kompetitif, paket sasisnya masih belum memuaskan selama tiga akhir pekan balapan pertama.
Upaya Red Bull menghadirkan upgrade signifikan pertama tahun ini di Grand Prix Jepang, meskipun Max Verstappen mengatakan di Suzuka bahwa dia tidak merasakan perbedaannya. Hal ini memicu pertanyaan tentang korelasi tim, meskipun paket Miami berjalan sesuai prediksi Red Bull.
Wache tetap berhati-hati terkait kondisi korelasi saat ini karena Red Bull masih mengandalkan terowongan angin tertua di Formula 1.
Penyusunan Ulang Terowongan Angin
Red Bull sedang membangun terowongan angin baru di kampus Milton Keynes. Wache mengungkapkan bahwa proyek tersebut berjalan maju tiga bulan lebih cepat dari jadwal, meskipun terowongan baru itu tidak mungkin digunakan tahun ini.
Dukungan Konsep Baru
Horner menggambarkan terowongan angin Red Bull saat ini sebagai “peninggalan Perang Dingin” dan mengungkapkan ketidakcocokan korelasi yang terjadi. Terowongan angin telah menjadi investasi utama di F1, dengan tim seperti McLaren dan Aston Martin memiliki fasilitas canggih sendiri. Namun, Red Bull masih terbatas dengan terowongan yang sudah ada.
Langkah Kecil untuk Red Bull di Grand Prix Kanada
Hingga awal 2027, Red Bull masih harus mengandalkan terowongan angin lama untuk pengembangan RB22 dan langkah-langkah pengembangan awal mobil 2027. Meskipun demikian, tim teknis di bawah pimpinan Wache berhasil memperkenalkan sebuah paket sukses di Miami.
Wache mengonfirmasi bahwa langkah kecil akan diambil di Montreal sebelum masuk ke musim Eropa. Red Bull berharap bisa mencapai batas berat minimum selama Grand Prix Austria.












