Berita  

Inflasi Membengkak, Hidup Warga RI Merosot – Analisis Wapres

Memburuknya Kondisi Ekonomi dan Kritik Tajam Wapres Mohammad Hatta

Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia – Memburuknya kondisi ekonomi pada masa awal kemerdekaan Indonesia pernah memicu kritik keras dari Wakil Presiden pertama RI, Mohammad Hatta terhadap Presiden Soekarno. Hatta bahkan menilai penderitaan ekonomi yang dialami rakyat saat itu lebih berat dibandingkan ketika Indonesia masih berada di bawah penjajahan Belanda maupun pendudukan Jepang.

Kritik tersebut disampaikan Hatta melalui surat kepada Soekarno pada 17 Juni 1963. Meski sudah tidak lagi menjabat sebagai wakil presiden sejak 1956, Hatta tetap mengikuti perkembangan ekonomi nasional dan mengaku cemas melihat arah perjalanan negara.

Situasi Ekonomi yang Meresahkan

Menurut catatan Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern (1999), pada masa itu Indonesia menghadapi tekanan ekonomi yang berat. Inflasi terus meningkat, harga kebutuhan pokok melonjak, dan daya beli masyarakat menurun. Di saat bersamaan, pemerintah tetap menjalankan berbagai proyek mercusuar yang menyedot anggaran besar.

Sebagai ekonom yang sejak awal kemerdekaan terlibat dalam perumusan kebijakan negara, Hatta memandang situasi tersebut sebagai kemerosotan yang sangat serius. Bahkan, dia menyebut kondisi kehidupan rakyat saat itu belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Indonesia.

Kebijakan Ekonomi yang Keliru

Menurut Hatta, akar persoalan terletak pada kebijakan ekonomi yang keliru. Alih-alih mewujudkan cita-cita sosialisme yang kerap dikampanyekan pemerintah, kebijakan yang diterapkan justru membuat beban rakyat semakin berat.

“Pendapatan rakyat makin ditekan, apalagi dengan politik inflasi yang dipercepat, tetapi beban rakyat makin diperbesar,” ungkap proklamator itu.

Tak hanya itu, Hatta juga menyoroti munculnya kelompok elite yang hidup mewah di tengah kesulitan ekonomi masyarakat. Kondisi tersebut, menurutnya, memperlebar jurang antara golongan kaya dan miskin.

Hatta mengaku ikut merasakan dampak memburuknya kondisi ekonomi. Dari uang pensiunnya yang hanya sebesar Rp5.762, sekitar 70% harus digunakan untuk membayar tagihan listrik. Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa arah kebijakan ekonomi saat itu telah melenceng dari tujuan yang dicanangkan pemerintah.

Karena itu, dia melontarkan pertanyaan tajam kepada Soekarno dan para pembantunya.

“Menjadi pertanyaan sekarang bagi banyak orang, mungkin juga bagi segala orang yang menderita dan berpikir: Inikah jalan ke sosialisme? Apakah sosialisme bukan menjadi lip service saja seperti juga dengan Pancasila?”

Surat tersebut kemudian dikenal sebagai salah satu kritik paling keras yang pernah dilontarkan Hatta kepada Soekarno. Beberapa tahun kemudian, krisis ekonomi yang semakin parah turut menjadi salah satu faktor yang melemahkan posisi politik Soekarno hingga akhirnya kehilangan kekuasaan.

Source link