Berita  

Sektor Industri RI Masuk Zona Merah: Dampak Rupiah dan Daya Beli

PMI Manufaktur Indonesia Turun ke Zona Kontraksi

Jakarta, CNBC Indonesia – Data Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia periode Juni 2026 menunjukkan penurunan ke zona kontraksi, di bawah level indeks 50. Hal ini menjadi perhatian serius bagi para ekonom.

Reaksi Ekonom Terhadap Data PMI

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas, Fakhrul Fulvian, menyatakan bahwa penurunan PMI manufaktur RI mengindikasikan bahwa dunia usaha membutuhkan kepastian arah kebijakan dan sinyal optimisme dari pemerintah. Menurutnya, kebijakan yang jelas dan memberikan ruang bagi sektor swasta untuk tumbuh akan mendorong investasi dan mengurangi beban biaya produksi industri.

Di sisi lain, Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa turunnya PMI manufaktur juga disebabkan oleh melemahnya permintaan, naiknya biaya produksi, ketidakpastian pasar, serta kebijakan yang belum stabil.

Rekomendasi dan Harapan

Kedua ekonom tersebut sepakat bahwa pemerintah perlu memberikan stimulus, seperti diskon tarif listrik, untuk membantu menurunkan biaya produksi industri dan meningkatkan daya beli masyarakat. Selain itu, kepastian kebijakan, pasokan bahan baku yang memadai, serta dukungan untuk sektor padat karya juga menjadi hal yang diharapkan dari pemerintah.

PMI Indonesia yang turun ke level 46,9 pada Juni 2026 menunjukkan penurunan yang signifikan dalam sektor manufaktur, dimana pesanan baru mengalami penurunan tercepat dalam setahun. S&P Global pun menyatakan bahwa kondisi operasional pabrik juga menurun cukup tajam, menciptakan tantangan lebih lanjut bagi industri manufaktur Indonesia.

Source link