Berita  

Perang China-Taiwan: Gerbang Menuju Kiamat Baru

Sebuah laporan kongres AS yang baru-baru ini dirilis memperingatkan bahwa perang yang mungkin pecah antara China dan Taiwan dapat menjadi “bencana kataklismik” bagi perekonomian global. Skala kerusakannya diproyeksikan sangat masif, berpotensi memangkas Produk Domestik Bruto (PDB) global hingga 10%. Laporan tahunan dari Komisi Tinjauan Ekonomi dan Keamanan AS-China kepada Kongres AS itu menyebutkan bahwa konsekuensi dari skenario terburuk ini akan setara dengan Krisis Keuangan Global 2008. Angka 10% PDB global adalah kerugian ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya di era modern, menggarisbawahi posisi Taiwan sebagai titik rentan paling kritis di dunia.

Kekhawatiran utama terletak pada peran Taiwan sebagai “Pulau Silikon” (Silicon Island). Taiwan saat ini menguasai lebih dari 60% kapasitas semikonduktor global. Taiwan memproduksi lebih dari 90% chip paling canggih di dunia, yang menjadi bahan bakar utama bagi teknologi baru yang muncul, mulai dari kecerdasan buatan (AI) hingga kendaraan listrik. Posisi sentral Taiwan dalam ekosistem teknologi global menjadikannya mitra kunci dalam upaya AS untuk mencegah China mendominasi komputasi canggih.

Secara geopolitik, konflik tersebut akan memicu bencana kemanusiaan dan risiko eskalasi yang lebih luas. China telah meningkatkan tekanan militernya terhadap Taiwan dalam beberapa tahun terakhir melalui latihan udara dan laut, menegaskan klaimnya atas Taiwan dan tidak mengesampingkan penggunaan kekuatan jika perlu. Aktivitas militer Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China telah diperkuat, termasuk platform amfibi baru yang dirancang untuk serangan cepat.

Amerika Serikat terikat oleh Taiwan Relations Act untuk membantu memastikan pulau tersebut dapat mempertahankan kemampuan pertahanan diri yang memadai. Namun, Washington terus mempertahankan kebijakan “ambiguitas strategis”, meninggalkan tanda tanya besar apakah mereka akan secara langsung melakukan intervensi dalam konflik lintas selat. Di sisi China, analisis komisi tersebut mendapat kritik. Profesor Li Haidong dari Universitas Urusan Luar Negeri China menolak kesimpulan laporan tersebut.

Source link