Berita  

Cara Putin Dapat Dukungan Pengusaha: Pengakuan Mantan Miliarder Rusia

Jumlah miliarder di Rusia mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah di tengah perang Ukraina. Namun, dibalik itu, orang-orang super kaya di Rusia kehilangan suara politik mereka. Para oligarki yang dulu sangat berpengaruh kini menjadi pendukung Kremlin. Melalui tekanan keras dan imbalan ekonomi, Putin berhasil memastikan para miliarder tetap berada di barisan pemerintah.

Sebagai contoh, mantan miliarder perbankan Oleg Tinkov, mengkritik perang tersebut sebagai “gila” lewat unggahan Instagram, namun segera diberi ultimatum gelap oleh Kremlin. Dalam waktu singkat, perusahaan yang terkait dengan seorang pebisnis terkaya di Rusia, Vladimir Potanin, membeli bank milik Tinkov dengan harga jauh di bawah nilai sebenarnya, menyebabkan Tinkov kehilangan hampir US$9 miliar dari kekayaannya dan meninggalkan Rusia.

Putin secara sistematis melucuti pengaruh politik para oligarki sejak awal masa kekuasaannya, dan mereka yang melawan garis Kremlin dihukum. Namun, sejak invasi Ukraina, hampir semua orang super kaya Rusia tetap diam, sedikit yang menentangnya secara publik harus meninggalkan negara dan sebagian besar kekayaannya. Upaya sanksi barat juga gagal mengubah sikap para miliarder Rusia.

Meskipun demikian, keuntungan besar terjadi bagi para miliarder yang terlibat dalam ekonomi perang Putin. Tahun ini, jumlah miliarder di Rusia mencapai rekor tertinggi dengan kekayaan kolektif mencapai US$580 miliar. Sanksi dari negara barat justru membantu Putin memobilisasi miliarder dan aset mereka untuk mendukung ekonomi perang Rusia. Sebuah strategi yang pada tahun 2024 melahirkan 11 miliarder baru di Rusia.

Dengan keluarnya perusahaan asing pasca Invasi Rusia, kekosongan diciptakan dan diisi oleh pengusaha pro-Kremlin. Mereka diberi izin untuk membeli aset dengan harga murah, menciptakan tentara loyalis baru yang berpengaruh dan aktif. Hal ini menunjukkan bagaimana Putin berhasil mengendalikan orang-orang kaya di Rusia untuk mendukung kebijakan politik dan ekonominya.

Source link