Berita  

Kenapa Netanyahu Membatasi Damai di Timur Tengah?

Konflik di Timur Tengah yang memanas kembali menjadi sorotan dengan eskalasi Israel di Lebanon. Pakar menganggap bahwa operasi militer yang dilakukan oleh Israel di Lebanon bukan lagi sekadar serangan biasa, melainkan bagian dari strategi jangka panjang yang membuat perdamaian sulit tercapai di Teluk dalam waktu dekat. Menurut Presiden Pusat Studi Timur Tengah dan dosen tamu Universitas HSE Moscow, Murad Sadygzade, langkah Israel di Lebanon tidak hanya untuk menyerang infrastruktur militer Hizbullah, melainkan juga sebagai upaya pembentukan ulang realitas militer dan politik di Lebanon selatan.

Eskalasi konflik ini dimulai pada awal Maret setelah Hizbullah merespons serangan terhadap Iran. Israel melakukan serangan udara besar dan memperluas operasi darat di Lebanon selatan. Menteri Pertahanan Israel bahkan secara terbuka menyebut rencana zona keamanan hingga Sungai Litani yang mencakup hampir 10% wilayah Lebanon. Hal ini menunjukkan sinyal politik yang semakin jelas, terutama ketika ada pernyataan dari pejabat senior Israel yang berbicara tentang perubahan perbatasan dan penghancuran desa-desa, yang menunjukkan adanya pendudukan terselubung.

Serangan besar pada 8 April menjadi titik paling berdarah dalam konflik ini. Israel mengklaim telah menyerang lebih dari 100 target Hizbullah di berbagai daerah di Lebanon, menyebabkan korban jiwa dan ribuan orang terluka. Serangan ini juga memicu eksodus besar warga dan menimbulkan kerusakan yang parah. Analisis menyoroti bahwa konflik ini juga dimanfaatkan sebagai alat politik oleh Netanyahu untuk mempertahankan kekuasaan di tengah tekanan politik dan krisis internal yang sedang dialami oleh pemerintahannya.

Dengan dinamika regional yang semakin intens, terutama melibatkan Iran dan AS, serta tekanan regional terhadap Hizbullah, konflik di Lebanon dianggap sebagai bagian dari proyek geopolitik jangka panjang. Elite Israel menggunakan konflik ini sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan politik serta kepentingan teritorial di kawasan Timur Tengah. Selama logika seperti ini tetap berlangsung, peluang tercapainya perdamaian di wilayah tersebut dalam waktu dekat dinilai sangat kecil.

Source link