Berita  

Ancaman Jalur Strategis Pasifik dengan Kedekatan Perang di Asia

Jumlah Kapal Pemerintah China di Sekitar Taiwan Melonjak Tajam

Jakarta, CNBC Indonesia – Aktivitas kapal pemerintah China di sekitar Taiwan melonjak tajam sepanjang Juni 2026. Lonjakan ini memicu kekhawatiran Taipei bahwa Beijing tengah menguji skenario pemutusan jalur pasokan strategis Taiwan dari sekutu-sekutunya di kawasan Pasifik.

Data Penjaga Pantai Taiwan menunjukkan sebanyak 55 kapal pemerintah China, termasuk kapal penjaga pantai dan kapal riset, terdeteksi beroperasi di sekitar pulau tersebut pada Juni. Jumlah itu naik drastis dibandingkan 30 kapal pada Mei dan 25 kapal pada periode yang sama tahun lalu.

Kapal China di Luar Zona Ekonomi Eksklusif Taiwan di Samudra Pasifik

Peningkatan tersebut setara dengan kenaikan sekitar 83% dibandingkan bulan sebelumnya dan melonjak 120% secara tahunan. Otoritas Taiwan menegaskan angka itu belum memasukkan aktivitas kapal China di sekitar pulau-pulau yang dikuasai Taiwan di dekat pesisir China.

Pejabat senior Penjaga Pantai Taiwan menyatakan bahwa sebagian kapal penjaga pantai China sebenarnya bekas kapal perusak angkatan laut yang dimodifikasi dan dicat ulang sebelum dialihkan ke dinas penjaga pantai. Menurutnya, kapal-kapal tersebut memiliki ukuran lebih besar, daya tahan tinggi, serta kemampuan militer yang jauh lebih kuat dibandingkan armada penjaga pantai Taiwan.

Pejabat itu juga mengatakan kapal penjaga pantai China kini kerap beroperasi secara berpasangan di luar zona ekonomi eksklusif Taiwan di Samudra Pasifik, memberikan tekanan besar pada kapasitas kapal penjaga pantai Taiwan.

Aktivitas China Sebagai Bentuk “Ekspansi” dalam Kawasan

Sementara itu, pejabat senior Taiwan lainnya menyebut aktivitas Beijing sebagai bentuk “ekspansi” yang bertujuan mengubah status quo di kawasan. Ia mengatakan kapal penjaga pantai China mulai menyiarkan permintaan informasi kepada kapal-kapal dagang mengenai aktivitas keluar-masuk pelabuhan, meski hingga kini belum ada kapal komersial yang mengubah rutenya akibat tekanan tersebut.

Sebagai respons, Taiwan mengirimkan siaran radio balasan kepada kapal-kapal dagang agar tetap berlayar sesuai jalur normal dan mengabaikan instruksi dari otoritas China.

Hingga kini Kementerian Pertahanan China maupun Kantor Urusan Taiwan belum memberikan tanggapan atas perkembangan tersebut. Beijing menegaskan Taiwan bagian dari China, sedangkan Taipei menolak klaim tersebut dan menyatakan hanya rakyat Taiwan yang berhak menentukan masa depan pulau itu.

Source link