Bahaya Abu Vulkanik: 6 Ancaman yang Harus Diwaspadai

Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Sebaran Abu Vulkanik Meluas

Jakarta (ANTARA) – Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi dan dampaknya mulai dirasakan di sejumlah wilayah. Pada Minggu (6/9), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau telah melingkupi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu.

Berdasarkan analisis citra satelit BMKG, abu vulkanik bergerak pada beberapa ketinggian dengan arah yang berbeda. Sebaran pada ketinggian hingga 20.000 kaki bergerak menuju timur laut hingga selatan, mencakup sebagian wilayah Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan di sekitarnya. Sementara itu, abu pada ketinggian lebih tinggi terpantau bergerak ke arah barat daya hingga barat laut.

Abu vulkanik juga dilaporkan mencapai wilayah Bogor hingga Sukabumi. Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu lebih waspada, terutama ketika harus beraktivitas di luar rumah.

Bahaya Abu Vulkanik dan Cara Menghadapinya

Mengganggu Saluran Pernapasan

Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Partikel yang sangat kecil dapat terhirup dan masuk ke saluran pernapasan. Paparan abu dapat menimbulkan berbagai keluhan seperti batuk, hidung, dan tenggorokan terasa tidak nyaman, hingga kesulitan bernapas. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut abu vulkanik dapat menyebabkan gangguan pernapasan akut maupun kronis, tergantung tingkat dan lamanya paparan.

Orang yang memiliki masalah pernapasan juga perlu lebih berhati-hati karena paparan abu dapat memperburuk keluhan yang sudah ada.

Membuat Mata Perih dan Iritasi

Mata juga menjadi salah satu bagian tubuh yang mudah terdampak ketika abu vulkanik beterbangan. Partikel abu dapat membuat mata terasa perih, gatal, merah, atau berair. WHO juga mencatat aktivitas vulkanik dapat menyebabkan iritasi pada mata dan kulit.

Ketika udara dipenuhi abu, sebaiknya hindari mengucek mata dan gunakan pelindung mata jika memang harus berada di luar ruangan.

Mengiritasi Kulit

Kontak langsung dengan abu vulkanik juga dapat membuat kulit mengalami iritasi. Abu yang menempel di kulit, terutama dalam jumlah banyak, sebaiknya segera dibersihkan dengan cara yang aman. Mengurangi kontak langsung dengan abu menjadi langkah sederhana untuk mencegah iritasi.

Mengurangi Jarak Pandang

Abu vulkanik yang menyebar di udara tidak hanya menjadi masalah kesehatan, tetapi juga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Kondisi udara yang dipenuhi abu dapat membuat jarak pandang menurun. Hal ini tentu berisiko bagi pengendara, terutama sepeda motor, karena jalan menjadi lebih sulit terlihat dengan jelas.

Selain itu, abu dapat kembali beterbangan ketika terkena angin atau ketika kendaraan melintas. Karena itu, masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi abu sedang cukup pekat.

CDC menyarankan masyarakat menghindari berkendara ketika abu vulkanik sedang tebal karena kendaraan dapat mengalami gangguan dan aktivitas berkendara juga dapat membuat abu kembali beterbangan.

Abu yang Menumpuk Dapat Membebani Atap

Bahaya abu vulkanik tidak berhenti pada kesehatan manusia. Jika turun dalam jumlah besar dan menumpuk, abu yang berat juga dapat memberikan beban tambahan pada atap bangunan. Dalam kondisi tertentu, tumpukan abu dapat meningkatkan risiko kerusakan hingga runtuhnya atap. Karena itu, kondisi bangunan perlu diperhatikan apabila suatu wilayah mengalami hujan abu cukup lebat.

Pandangan ahli Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, menjelaskan bahaya abu vulkanik bagi tubuh dan bagaimana tata cara membersihkannya dengan benar. Menurut Dicky, abu vulkanik mengandung silika seperti serpihan kaca yang tajam dan dapat merusak organ-organ seperti mata, hidung, mulut, dan kulit.

Adanya paparan abu vulkanik dapat membahayakan kesehatan karena dapat menimbulkan iritasi, terutama pada mata dan saluran pernapasan.

Untuk melindungi diri dari abu vulkanik, disarankan untuk mengurangi aktivitas di luar rumah, menggunakan masker dan pelindung mata ketika keluar, serta membersihkan tubuh dan pakaian setelah beraktivitas di luar. Selalu ikuti informasi terbaru dari BMKG dan instansi terkait untuk mengantisipasi dampak erupsi Gunung Anak Krakatau.

Source link