Berita  

Deal Perdamaian Resmi Gaza-Israel: Respons Warga dan Hamas

Deal Perdamaian Resmi Gaza-Israel: Respons Warga dan Hamas

Kabar tercapainya kesepakatan perdamaian antara Israel dan Hamas langsung memicu euforia di Gaza. Pengumuman itu disampaikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump lewat media sosial Truth Social, lalu dikonfirmasi Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, yang menyebut kedua pihak telah mencapai kesepakatan di Gaza.

Sukacita di Al-Mawasi

Di wilayah pesisir Al-Mawasi, Gaza selatan, suasana berubah riuh tak lama setelah kabar itu tersebar. Warga meneriakkan “Allahu akbar” dan melepaskan tembakan peringatan ke udara sebagai bentuk perayaan. Bagi banyak orang, kabar ini menjadi harapan baru setelah berbulan-bulan hidup di tengah perang dan pengungsian.

Mohammed Zamlot, seorang warga yang mengungsi dari Gaza utara, mengatakan mereka terus memantau jalannya negosiasi dan pembahasan gencatan senjata. Respons spontan warga, menurutnya, mencerminkan betapa besar keinginan mereka agar perang segera berhenti.

Isi tahap awal kesepakatan

Dalam tahap pertama, Hamas akan membebaskan seluruh sandera yang masih mereka tahan. Sebagai gantinya, Israel akan membebaskan tahanan Palestina dan menarik pasukannya kembali ke garis yang telah disepakati. Hamas juga telah menyerahkan daftar nama tahanan Palestina yang ingin dibebaskan, termasuk Marwan Barghouti dari gerakan Fatah.

Di sisi lain, Hamas akan melepaskan 47 sandera yang tersisa, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal, yang ditawan sejak serangan pada Oktober 2023. Kesepakatan ini menjadi titik penting dalam konflik yang telah menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar di Gaza.

Jaminan akhir perang masih jadi tuntutan

Salah satu negosiator utama Hamas, Khalil al-Hayya, menegaskan bahwa kelompoknya tidak hanya mengejar pertukaran sandera dan tahanan. Menurutnya, Hamas ingin kepastian bahwa perang benar-benar berakhir dan tidak kembali pecah setelah kesepakatan dijalankan. Bagi Hamas, jaminan perdamaian abadi menjadi inti dari setiap langkah lanjutan.

Perang di Gaza sendiri telah menewaskan ribuan orang dan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa disebut sebagai genosida. Karena itu, kesepakatan ini dipandang bukan sekadar pertukaran tawanan, melainkan ujian awal apakah jalur diplomasi bisa membuka jalan menuju penghentian perang yang lebih permanen.

Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.