Sepang menghadirkan tantangan yang tidak sepenuhnya diperkirakan dalam latihan bebas Formula 1 pada Jumat, menjelang kembalinya Malaysia ke kalender balap setelah absen selama sembilan tahun. Hujan monsun harian memang tidak mengganggu sesi, tetapi kondisi aspal sirkuit justru menjadi persoalan utama.
Permukaan lintasan sepanjang 5,35 kilometer itu mulai terkelupas selama latihan. Batu-batu kecil kemudian berserakan di trek sehingga truk penyapu dikerahkan setelah sesi latihan bebas kedua (FP2) untuk membersihkannya. Kondisi tersebut membuat para pembalap kesulitan mendapatkan grip sekaligus mempercepat degradasi ban.
Simulasi Pirelli meleset 4,5 detik
Pemasok ban Formula 1, Pirelli, mengungkapkan bahwa catatan dalam simulasi satu lap pada Jumat lebih cepat hingga 4,5 detik dibandingkan kondisi nyata di Sepang. Perbedaan itu terutama disebabkan tingkat kekasaran aspal dan rendahnya daya cengkeram yang tersedia.
Chief engineer Pirelli, Simone Berra, mengatakan kondisi lintasan berubah cepat sepanjang sesi. “Kondisinya tidak terlalu baik, aspalnya mulai terkelupas. Ada batu-batu yang keluar dan FIA beberapa kali membersihkan lintasan dengan truk penyapu,” ujar Berra.
Menurut dia, kerusakan permukaan aspal juga berlangsung ketika sesi masih berjalan. “Aspalnya terdegradasi cukup cepat, bahkan selama sesi, jadi saat ini hal itu belum benar-benar terkendali,” katanya.
Berra menambahkan, tim-tim belum memiliki acuan yang memadai karena Formula 1 tidak menggelar balapan di Sepang selama satu dekade. “Kami terpaut 4,5 detik dari simulasi. Kita lihat besok, tetapi saya rasa kami tidak akan mendapatkan kembali 4-5 detik itu malam ini. Jadi, ini pada dasarnya berkaitan dengan kondisi aspal,” ucapnya.
Degradasi diperkirakan berlanjut saat balapan
Meski permukaan lintasan memburuk, Pirelli menilai situasi tersebut tidak menimbulkan persoalan keselamatan besar, termasuk risiko ban pecah. Masalah utamanya adalah grip yang rendah akibat tingkat kekasaran aspal.
“Ini bukan masalah besar dari sisi keselamatan atau kebocoran ban. Ini hanya persoalan menghasilkan grip yang rendah karena tingkat kekasarannya tinggi,” kata Berra. Ia memperkirakan kondisi itu bisa semakin berat saat balapan berlangsung, ketika lebih banyak mobil melintas dalam suhu tinggi.
“Sejujurnya, ini bukan akhir dari segalanya dan masih bisa dikelola, tetapi tingkat grip jelas tidak ideal,” lanjutnya.
Charles Leclerc, yang menutup hari sebagai pembalap tercepat bersama Ferrari, juga menggambarkan sesi tersebut sebagai hari yang sulit. “Secara keseluruhan, ini hari yang sangat, sangat sulit. Kondisi lintasannya sangat rumit. Treknya sebenarnya cukup kotor dan licin, jadi saya pikir banyak hal akan berubah dan berkembang dari hari ini,” ujar Leclerc.
Strategi balapan bisa berbeda dari hasil kualifikasi
Malaysia menjadi pengganti Sakhir sebagai lokasi Grand Prix Bahrain pada akhir pekan ini. Karakter aspal Sepang yang kasar dan tingkat keausannya yang tinggi dinilai sesuai dengan tantangan yang biasanya muncul di Bahrain.
Degradasi ban per lap berpotensi membuat urutan kekuatan dalam satu lap berbeda dari performa mobil dalam stint panjang. Kondisi itu dapat membuka lebih banyak pilihan strategi, terlebih Sepang juga cukup mendukung aksi salip-menyalip.
Berra menjelaskan, tim harus mencari kompromi antara kecepatan satu lap dan konsistensi selama balapan. Pengaturan mobil yang ideal untuk menjaga suhu ban dalam stint panjang belum tentu cocok untuk kualifikasi. Ia juga melihat beberapa tim kesulitan mengaktifkan ban depan, sehingga performa mereka di kualifikasi bisa lebih lemah tetapi justru lebih baik saat balapan.












