Prabowo Sindir Ekonomi Neoliberal, Sebut Efek “Trickle Down” Hanya Mitos
Presiden Prabowo Subianto melontarkan kritik keras terhadap teori ekonomi neoliberal saat berbicara dalam peringatan Harlah ke-27 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Rabu malam. Dalam pidatonya, ia menolak anggapan bahwa kekayaan yang menumpuk di lapisan atas pada akhirnya akan otomatis mengalir ke masyarakat luas. Menurut Prabowo, gagasan itu selama ini hanya menjadi pembenaran bagi ketimpangan, bukan solusi bagi persoalan ekonomi rakyat.
Prabowo: Negara Harus Hadir untuk Rakyat
Di hadapan para hadirin, Prabowo menegaskan bahwa arah pembangunan tidak boleh bertumpu pada logika yang membiarkan kesenjangan tetap tumbuh. Ia menyinggung pentingnya Pasal 33 UUD 1945 sebagai landasan agar negara benar-benar menjamin kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Bagi Prabowo, tujuan utama negara bukan sekadar mencatat pertumbuhan, melainkan memastikan rakyat keluar dari kemiskinan dan kelaparan.
Ia juga menyoroti bahwa ekonomi yang berpihak pada rakyat harus dibangun di atas semangat gotong royong dan kekeluargaan. Prinsip itu, menurutnya, jauh lebih sesuai dengan kebutuhan Indonesia dibanding model neoliberal yang kerap dianggap menormalisasi ketidakadilan. Dalam pandangan Prabowo, kebijakan ekonomi semestinya tidak berhenti pada kelompok tertentu, tetapi menjangkau masyarakat yang paling membutuhkan.
Kritik atas Teori yang Dianggap Tak Pernah Terbukti
Prabowo menyebut keyakinan bahwa kekayaan dari atas akan menetes ke bawah sebagai mitos yang tidak pernah benar-benar terwujud. Pernyataan itu menjadi penegasan sikapnya terhadap model ekonomi yang dinilai terlalu memberi ruang pada akumulasi kekayaan di segelintir pihak. Ia menempatkan isu pemerataan sebagai inti dari kebijakan ekonomi yang adil dan berkelanjutan.
Pidato tersebut sekaligus memperlihatkan garis politik ekonomi Prabowo yang menolak pendekatan yang memperlebar jarak sosial. Dengan menempatkan Pasal 33 dan kepentingan rakyat sebagai pijakan, ia kembali menegaskan bahwa arah ekonomi nasional harus diarahkan untuk menghapus kemiskinan, bukan sekadar menguntungkan pasar.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.


